SELAMAT DATANG ---- UTAMAKAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA ----

Sabtu, 04 Desember 2010

Waspada Terhadap Kegiatan Peledakan di Lokasi Tambang

Seperti kita ketahui bersama perusahaan kita ini merupakan salahsatu perusahaan yang bergerak dalam pertambangan batubara di Indonesia.  Dalam kegiatan untuk memproduksi  batubara tersebut harus dilakukan kegiatan pembukaan lapisan batuan penutup overburden ( OB ) terlebih dahulu  . Sebagian  besar OB yang ada merupakan batuan yang keras sehingga tidak bisa langsung dibongkar memakai alat berat saja namun membutuhkan suatu proses yang dinamakan peledakan ( blasting ).

Peledakan dalam kegiatan pertambangan merupakan bagian proses yang krusial baik dari bahan/material ataupun proses kegiatannya.

Dari material, bahan peledak (handak ) termasuk barang yang berbahaya sehingga dalam penanganannya mempunyai prosedur penanganan yang sangat ketat dan juga melibatkan pihak kepolisian.

Seperti kita ketahui bersama beberapa kejadian kriminal di negara kita sebagian juga menggunakan bahan peledak seperti peristiwa Bom Bali 1dan 2 dan sebagainya. Atau kegiatan nelayan  secara ilegal  dengan mencari ikan yang memakai bom ,dimana tentu saja dapat berakibat buruk terhadap kondisi lingkungan ( terumbu karang ).

Mengingat bahaya yang ada,  kegiatan peledakan juga harus memenuhi berbagai syarat seperti :
Juru ledak harus punya KIM ( Kartu Ijin Meledakkan ), dilakukan di siang hari serta jauh dari pemukiman , dan lain-lain

Rata–rata kegiatan peledakan di tempat kita hampir dilaksanakan tiap hari secara bergantian di tiap-tiap pit yang ada. Sebagai karyawan di perusahaan ini yang mungkin suatu saat akan ada kepentingan untuk memasuki tambang, maka kita perlu tahu hal-hal yang harus kita lakukan apabila memasuki daerah tambang dimana di lokasi tersebut akan dilakukan kegiatan peledakan.

Pada kesempatan ini akan kita uraikan mengenai mengenai hal-hal tersebut :

  1. Sebelum memasuki suatu Pit ( area tambang ) sempatkan diri kita untuk membaca jadwal peledakan di jalan masuk ke Pit tersebut . Biasannya dalam bentuk jam analog.
2.      Pastikan chanel radio yang kita gunakan adalah channel yg ditentukan di area tersebut .
Agar segala komunikasi  yang sedang terjadi dapat kita monitor.
Rambu channel radio biasanya juga terpampang besar dijalan masuk suatu Pit.
( Apabila radio kita belum tersetting hubungi Departemen IT ).
3.   Perhatikan lingkungan seputar pit kalau banyak alat yang standby atau travel      
      evakuasi maka itu salahsatu tanda akan ada kegiatan peledakan.
  1. Apabila masih kurang yakin maka hubungi penanggungjawab Pit ( Group Leader) untuk meminta informasi mengenai jadwal       peledakan  di pit tersebut.
  2. Ketika akan dilaksanakan kegiatan peledakan maka akan ada orang/mobil yang 
      memblokir  akses jalan masuk ke pit tersebut, pastikan anda jangan menerobos /
      memaksakan diri untuk masuk ke pit tersebut.
  1. Bila ada sirine terdengar maka hal tersebut juga merupakn sinyal akan adanya
kegiatan peledakan, maka pastikan jarak kita aman.      ( standar di tempat kita diatur radius jarak aman untuk alat 300 m sedang untuk manusia 500 m ).

Demikian beberapa tips aman untuk mengantisipasi kegiatan peledakan. Mudah-mudahan bisa menghindarkan kita dari kecelakaan akibat terkena imbas peledakan yang mungkin terjadi akibat ketidaktahuan kita atau kurang pedulinya kita akan hal-hal yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasi kegiatan peledakan tersebut.

Waspada terhadap bahaya peledakan Cermin peduli keselamatan diri

Prinsip Dasar Keselamatan Kerja

Upaya Kesehatan Kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun pekerja lain  di sekelilingnya, sehingga diperoleh produktivitas kerja yang optimal.

Kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja merupakan tiga komponen utama dalam kesehatan kerja, di mana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga komponen tersebut akan menghasilkan kesehatan kerja yang baik dan optimal.

Kapasitas kerja yang baik seperti status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta kemampuan fisik yang prima diperlukan agar seorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Kondisi atau tingkat kesehatan pekerja sebagai (modal) awal seseorang untuk melakukan pekerjaan harus pula mendapat perhatian. Kondisi awal seseorang untuk bekerja dapat dipengaruhi oleh kondisi tempat kerja, gizi kerja dan lain-lain.

Beban kerja meliputi beban kerja fisik maupun mental. Akibat beban kerja yang terlalu berat atau kemampuan fisik yang terlalu lemah dapat mengakibatkan seorang pekerja menderita gangguan atau penyakit akibat kerja.

Kondisi lingkungan kerja (misalnya panas, bising debu, zat-zat kimia dan lain-lain) dapat merupakan beban tambahan terhadap pekerja. Beban-beban tambahan tersebut secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dapat menimbulkan gangguan atau penyakit akibat kerja.

Gangguan kesehatan pada pekerja dapat disebabkan oleh faktor yang berhubungan dengan pekerjaan maupun yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa status kesehatan para pekerja dipengaruhi tidak hanya oleh bahaya kesehatan di tempat kerja dan lingkungan kerja tetapi juga oleh factor-faktor pelayanan kesehatan kerja, perilaku kerja serta faktor lainnya.

Untuk mengantisipasi ganguan kesehatan bagi para pekerja, maka langkah awal yang penting adalah pengenalan / identifikasi bahaya yang bisa timbul dan dievaluasi, kemudian dilakukan pengendalian.



Berikut adalah tiga langkah utama untuk mengantisipasi dan mengetahui kemungkinan timbulanya bahaya dilingkungan kerja yaitu :

1.   Pengenalan lingkungan kerja.

Pengenalan linkungan kerja ini biasanya dilakukan dengan cara melihat dan mengenal , dan ini merupakan langkah dasar yang pertama-tama dilakukan dalam upaya kesehatan kerja.

2.   Evaluasi lingkungan kerja.

Merupakan tahap penilaian karakteristik dan besarnya potensi-potensi bahaya yang mungkin timbul, sehingga bisa untuk menentukan prioritas dalam mengatasi permasalahan.

3.   Pengendalian lingkungan kerja.

Dimaksudkan untuk mengurangi atau menghilangkan pemaparan terhadap zat/bahan yang berbahaya di lingkungan kerja. Kedua tahapan sebelumnya, pengenalan dan evaluasi, tidak dapat menjamin sebuah lingkungan kerja yang sehat. Jadi hanya dapat dicapai dengan teknologi pengendalian yang baik untuk mencegah efek kesehatan yang merugikan di kalangan para pekerja.


Kemudian tindakan pengendaliannya :

  • Pengendalian lingkungan ( Environmental Control Measures )
  • Pengendalian perorangan (Personal Control Measures )
Kenalilah Bahaya – Bahaya yang Mungkin Timbul dari  Pekerjaan yang Anda Lakukan, Agar Anda Terhindar dari Cidera

Selasa, 30 November 2010

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)


PENGERTIAN
Sampah / limbah adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan.
Yang dimaksud dengan limbah bahan berbahaya dan beracun (Limbah B3) adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.

SIFAT
Limbah B3 mempunyai satu atau lebih sifat-sifat sbb:
1.    Mudah meledak (explosive) à Limbah yang melalui reaksi kimia dapat menghasilkan gas dengan cepat, suhu dan tekanan yang tinggi yang mampu merusak lingkungan sekitar.
Contoh : Limbah dari pabrik yang menghasilkan eksplosif, limbah kimia seperti asam pikrat  (picric acid), dll.

2.    Mudah terbakar (flammable) à Limbah yang apabila didekatkan dengan api, percikan api, gesekan atau sumber nyala lain akan mudah menyala/terbakar
Contoh : Limbah dari bahan pelarut spt benzena, toluena atau aseton, serta limbah yang menggunakan bahan pelarut tersebut spt pembersihan metal, laboratorium dll.

3.    Menimbulkan korosi (korosif) à Limbah yang dalam kondisi asam atau basa (pH < dari 2 atau pH > dari 12.5) dapat menyebabkan nekrosis (terbakar) pada kulit atau dapat mengkaratkan (mengkorosikan) logam.
Contoh : Sisa asam cuka, H2SO4, limbah pembersih yang bersifat basa/alkalin (sodium hidroksida), limbah asam dari baterai dll

4.    Pengoksidasi (oxidizers) yang digunakan di lab à Limbah yang menyebabkan / menimbulkan kebakaran karena melepaskan oksigen.
Contoh : Magnesium, Perklorat, Metil Etil, Peroksida dll.

5.    Menimbulkan penyakit (infection) à Limbah yang berbahaya karena  mengandung atau terinfeksi kuman penyakit
Contoh : Bagian/organ tubuh yang dibuang dari rumah sakit, cairan tubuh manusia/darah, bangkai hewan yang terinfeksi dll.

6.    Beracun (toxic) à Senyawa kimia yang beracun bagi manusia atau lingkungan hidup:
Contoh : Pestisida (DDT, Aldrin dll), bahan-bahan farmasi yang sudah tidak terpakai lagi, pelarut halogen (Methylene Chlorida), sludge dari pengolahan air limbah  yang menggunakan logam berat misalnya Sianida dll.

PENGELOLAAN
Pengelolaan limbah B3 adalah rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi (meminimalisasi), penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan penimbunan limbah B3 (PP No. 18 & 85 tahun 1999).

Penanganan limbah B3 secara umum dapat dilakukan dengan :
1.    Penyimpanan dalam gudang.
Syarat  umum gudang penyimpanan:
- Gudang/ruangan penyimpanan harus memiliki sistim ventilasi yang baik
          - Penerangan yang cukup à stop kontak harus diluar gedung
          - Gudang harus mempunyai penangkal petir
          - Bagian luar tempat penyimpanan harus diberi tanda (simbol)
          - Lantai bangunan yang kedap air à dibuat miring 1% kearah bak kontrol
          - Penyimpan harus satu jenis atau yang saling cocok
          - Antara bagian penyimpanan dibuat tanggul/dinding pemisah
          - Masing-masing memiliki bak penampung tumpahan
          - Wadah/tempat penyimpanan tidak boleh bocor
          - Lama penyimpanan paling lama 90 hari
2.    Pendaur ulangan
3.    Pembakaran (Insinerator)
4.    Pemadatan (Solidifikasi) dan Pemantapan ikatan (Stabilisasi) umumnya dalam penanganan limbah cair dan lumpur :
- menjadikan kontaminan yang terkandung menjadi tidak aktif,
- mengurangi kandungan air.
5.    Penimbunan/penanaman (Landfill). Penanganan secara penimbunan dilakukan terhadap limbah padat & residu dari proses solidifikasi, sisa dari proses daur ulang, sisa pengolahan fisik-kimia, katalis, ter, lumpur (sludge) dan berbagai limbah yang tidak dapat diolah atau diproses lagi.
Konstruksi lokasi penimbunan limbah B3 harus dibangun dengan kedalaman beberapa meter dan dipadatkan dengan lapisan lempung atau lapisan sintesis untuk menahan rembesan.
Catatan :
 (Penanganan limbah B3 dengan sistim penimbunan dalam tanah harus mendapat ijin dari Kementerian Lingkungan Hidup dah harus dilakukan kontrol dan pemantauan selama 30 tahun setelah penimbunan).